Sabtu, 17 Maret 2012

LP abses hepar


ABSES HEPAR


A.    aKonsep Dasar
  1. Pengertian
Abses adalah pengumpulan cairan nanah tebal, berwarna kekuningan disebabkan oleh bakteri, protozoa atau invasi jamur kejaringan tubuh. Abses dapat terjadi di kulit, gusi, tulang, dan organ tubuh seperti hati, paru-paru, bahkan otak, area yang terjadi abses berwarna merah dan menggembung, biasanya terdapat sensasi nyeri dan panas setempat (Microsoft Encarta Reference Library, 2004)
Abscess adalah kumpulan nanah setempat dalam rongga yang tidak akibat kerusakan jaringan, Hepar adalah hati (Dorland, 1996).
 Jadi Abses hepar adalah rongga berisi nanah pada hati yang diakibatkan oleh infeksi.
  1. Anatomi dan Fisiologi
Hepar merupakan organ berbentuk biji dalam tubuh kita dengan berat 1,5 kg pada orang dewasa. Letaknya, terdapat pada bagian atas dalam rongga abdomen disebelah kanan bawah diafragma. Hati secara luas dilindungi tulang iga.
Hepar terbagi atas dua lapisan utama; pertama, permukaan atas berbentuk tembung, terletak di bawah diafragma, kedua, permukaan bawah tidak rata dan memperhatikan lekukan fisura transfersus. Fisura longitudional memisahkan belahan kanan dan kiri dibagian atas hati, selanjutnya hati dibagi empat belahan; lobus kanan, lobus kiri, lobus kaudata, dan lobus quadratus.
Hati mempunyai 2 jenis peredaran darah yaitu; Arteri hepatica dan Vena porta. Vena hepatica, keluar dari aorta dan memberikan 1/5 darah dalam hati, darah ini mempunyai kejenuhan 95-100 % masuk ke hati akan membentuk jaringan kapiler setelah bertemu dengan kapiler Vena, akhirnya keluar sebagai Vena hepatica. Vena porta terbentuk dari lienalis dan Vena mesentrika superior menghantarkan 4/5 darahnya ke hati, darah ini mempunyai kejenuhan 70% sebab beberapa O2 telah diambil oleh limfe dan usus, guna darah ini membawa zat makanan ke hati yang telah diabsorbsi oleh mukosa dan usus halus.
Hati dapat dianggap sebagai sebuah pabrik kimia yang membuat, menyimpan, mengubah dan mengekskresikan sejumlah besar substansi yang terlibat dalam metabolisme. Lokasi hati sangat penting dalam pelaksanaan fungsi ini karena hati menerima darah yang kaya nutrien langsung dari traktus gastrointestinal; kemudian hati akan menyimpan atau mentransformasikan semua nutrient ini menjadi zat-zat kimia yang digunakan dibagian lain dalam tubuh untuk keperluan metabolik. Hati merupakan organ yang penting khususnya dalam pengaturan metabolisme glukosa dan protein. Hati membuat dan mengekresikan empedu yang memegang peran uatama dalam proses pencernaan serta penyerapan lemak dalam tractus gastrointestinal. Organ ini mengeluarkan limbah produk dari dalam aliran darah dan mensekresikannya ke dalam empedu.
Fungsi metabolic hati terdiri dari; mengubah zat makanan yang diabsorpsi dari usus dan yang disimpan di suatu tempat dalam tubuh, dikeluarkannnya sesuai dengan pemakaiannya dalam jaringan. Kedua; mengeluarkan zat buangan dan bahan racun untuk diekresikan dalam empedu dan urin. Ketiga; menghasilkan enzim glikogenik glukosa menjadi glikogen. Keempat; sekresi empedu garam empedu dibuat di hati di bentuk dalam system retikula endothelium dialirkan ke empedu. Kelima; pembentukan ureum, hati menerima asam amino diubah menjadi ureum dikeluarkan dari darah oleh ginjal dalam bentuk urin. Keenam; menyimpan lemak untuk pemecahan berakhir asam karbonat dan air. Selain itu hati juga berfungsi sebagai penyimpan dan penyebaran berbagai bahan, termasuk glikogen, lemak, vitamin, dan besi, vitamin A dan D yang dapat larut dalam lemak disimpan di dalam hati. Hati juga membantu mempertahankan suhu tubuh secara luasnya organ ini dan banyaknya kegiatan metabolisme yang berlangsung mengakibatkan darah banyak mengalir melalui organ ini sehingga menaikkan suhu tubuh.
  1. Etiologi
Infeksi terutama disebabkan oleh kuman gram negatif dan penyebab yang terbanyak adalah E. coli, penyebab lainnya adalah :
Organisme
Insiden (%)
Organisme
Insidensi (%)
Aerob gram-negatif
Escherichia coli
Klebsiella
Proteus
Serratia
Morganella
Actinolbacter
Aerobgaram-positif
Streptococcus faecalis
Streptokokus – B
Sterptokokus – A
Stafilokokus
…….. 50 – 70
…….. 35 – 45





……….. …25
Anaerob
Fusdaacterium nucleatum
Bacteroides
Bacteroides fragil
Peptostreptococus
Actinomyces
Clostridium
….. 40 – 50


4.      Patofisiologi
  1. Skema bagan
1)      Terjadinya Amoebiasis hepar















(Bagan patofisiologi terjadinya amobiasishepar, Staf Pengajar Patofisiologi, Fakultas Kedokteran Unibraw Malang 2003).


2)      Pengaruh abses hepar terhadap kebutuhan dasar manusiah
















(Bagan pengaruh abses hepar terhadap kebutuhan manusia. Bruner dan Suddarth, 2000)
b.      Penjelasan
1)      Amuba yang masuk menyebabkan peradangan hepar sehingga mengakibatkan infeksi
2)      Kerusakan jaringan hepar menimbulkan perasaan nyeri
3)      Infeksi pada hepar menimbulkan rasa nyeri sehingga mengalami gangguan tidur atas pola tidur.
4)      Abses menyebabkan metabolisme dihati menurun sehingga menimbulkan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan.
5)      Metabolisme nutrisi di hati menurun menyebabkan produksi energi menurun sehingga dapat terjadi intoleransi aktifitas fisik.
  1. Manifestasi klinis
Keluhan awal: demam/menggigil, nyeri abdomen, anokresia/malaise, mual/muntah, penurunan berat badan, keringan malam, diare, demam      (T > 38°), hepatomegali, nyeri tekan kuadran kanan atas, ikterus, asites, serta sepsis yang menyebabkan kematian. (Cameron 1997)
  1. Komplikasi
     Komplikasi yang paling sering adalah berupa rupture abses sebesar      5 – 15,6%, perforasi abses keberbagai organ tubuh seperti ke pleura, paru, pericardium, usus, intraperitoneal atau kulit. Kadang-kadang dapat terjadi superinfeksi, terutama setelah aspirasi atau drainase. (Menurut  Julius, Ilmu penyakit dalam, jilid I, 1998)
  1. Pemeriksaan penunjang
Menurut Julius, ilmu penyakit dalam jilid I, (1998). Pemeriksaan penunjang antara lain
a.       Laboratorium
     Untuk mengetahui kelainan hematologi antara lain hemoglobin, leukosit, dan pemeriksaan faal hati.
b.      Foto dada
     Dapat ditemukan berupa diafragma kanan, berkurangnya pergerakkan diafragma, efusi pleura, kolaps paru dan abses paru.
c.       Foto polos abdomen
     Kelainan dapat berupa hepatomegali, gambaran ileus, gambaran udara bebas diatas hati.
d.      Ultrasonografi
Mendeteksi kelainan traktus bilier dan diafragma.
e.       Tomografi
     Melihat kelainan di daerah posterior dan superior, tetapi tidak dapat melihat integritas diafragma.
f.       Pemeriksaan serologi
Menunjukkan sensitifitas yang tinggi terhadap kuman.
  1. Pengobatan
Menurut Julius, ilmu penyakit dalam jilid I (1998) Pengobatan dilakukan tiga cara :
a.  Kemotrapi
Obat-obat dapat diberikan secara oral atau intravena sebagai contoh untuk gram negatif diberi Metranidazol, Clindamisin atau Kloramfenikal.


b.  Aspirasi Jarum
     Panda abses yang kecil atau tidak toksik tidak perlu dilakukan aspirasi. Hanya dilakukan pada ancaman ruktur atau gagal pengobatan konserfatif. Sebaliknya aspirasi ini dilakukan dengan tuntunan USG.

B.     Konsep Keperawatan
  1. Pengkajian
     Adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut.
     Menurut Doenges,E.M (2000), data dasar pengkajian pasien dengan Abses Hepar, meliputi:
a.       Aktivitas/istirahat, menunjukkan adanya kelemahan, kelelahan, terlalu lemah, latergi, penurunan massa otot/tonus.
b.      Sirkulasi, menunjukkan adanya gagal jantung kronis, kanker, distritmia, bunyi jantung ekstra, distensi vena abdomen.
c.       Eliminasi, Diare, Keringat pada malam hari menunjukkan adanya flatus, distensi abdomen, penurunan/tidak ada bising usus, feses warna tanah liat, melena, urine gelap pekat.
d.      Makanan/cairan, menunjukkan adanya anoreksia, tidak toleran terhadap makanan/tidak dapat mencerna, mual/muntah, penurunan berat badan dan peningkatan cairan, edema, kulit kering, turgor buruk, ikterik.
e.       Neurosensori, menunjukkan adanya perubahan mental, halusinasi, koma, bicara tidak jelas.
f.       Nyeri/kenyamanan, menunjukkan adanya nyeri abdomen kuadran kanan atas, pruritas, sepsi perilaku berhati-hati/distraksi, focus pada diri sendiri.
g.      Pernapasan, menunjukkan adanya dispnea, takipnea, pernapasan dangkal, bunyi napas tambahan, ekspansi paru terbatas, asites, hipoksia.
h.      Keamanan, menunjukkan adanya pruritas, demam, ikterik, ekimosis, patekis, angioma spider, eritema.
i.        Seksualitas, menunjukkan adanya gangguan menstruasi, impotent, atrofi testis.
  1. Diagnosis keperawatan
     Menurut Doenges,E.M (2000), diagnosa keperawatan pasien dengan Abses Hepar meliputi :
a.       Pola napas, tidak efektif berhubungan dnegan Neuromuskular, ketidakseimbangan perceptual/kognitif.
b.      Perubahan persepsi/sensori: proses pikir berhubungan dengan perubahan kimia: penggunaan obat-obat farmasi.
c.       Kekurangan volume cairan, resiko tinggi terhadap pembatasan pemasukan cairan secara oral (proses/prosedur medis/adanya rasa mual).
d.      Nyeri (akut) berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan, dan integritas otot.
e.       Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan interupsi mekanisme pada kulit/jaringan.
f.       Resiko tinggi infeksi berubungan dengan luka oprasi dan prosedur invasif.
g.      Gangguan kebutuhan tidur berhubungan dengan proses penyakit, efek hospitalisasi, perubahan lingkungan
h.      Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi/situasi, prognosis, kebutuhan pengobatan.
  1. Perencanaan
     Perencanaan berdasarkan Doenges,E.M (2000) perawatan pasien pasca operatif :
a.      Pola napas tidak efektif berhubungan dengan ketidakseimbangan perseptual/kognitif.
Tujuan : pola pernapasan normal/efektif dan bebas dari sianosis atau tanda-tanda hipoksia.
Intervensi :
1)      Pertahankan jalan udara pasien memiringkan kepala
2)      Auskultasi suara napas.
3)      Observasi frekuensi dan kedalaman pernapasan, pemakaian otot-otot bantu pernapasan.
4)      Pantau tanda-tanda vital secara terus-menerus.
5)      Lakukan gerak sesegera mungkin
6)      Observasi terjadinya yang berlebih
7)      Lakukan penghisapan lendir bila perlu
8)      Berikan tambahan oksigen sesuai kebutuhan
9)      Berikan terapi sesuai instruksi
b.      Perubahan persepsi/sensori: proses pikir berhubungan dengan penggunaan obat-obatan farmasi
Tujuan: meningkatnya tingkat kesadaran
Intervensi:
1)      Orientasikan kembali pasien secara terus-menerus setelah keluar dari pengaruh anestasi.
2)      Bicara dengan pasien dengan suara yang jelas dan normal.
3)      Minimalkan diskusi yang bersifat negatif.
4)      Gunakan bantalan pada tepi lakukan pengikatan jika perlu.
5)      Observasi akan adanya halusinasi, depresi dan lain-lain.
6)      Pertahankan lingkungan tenang dan nyaman.
c.       Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan secara oral (proses penyakit/prosedur medis/adanya rasa mual)
Tujuan: terdapat keseimbangan cairan yang adekuat.
Intervensi:
1)      Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran.
2)      Kaji pengeluaran urinarius, terutama untuk tipe prosedur operasi yang dilakukan.
3)      Pantau tanda-tanda vital.
4)      Catat munculnya mual/muntah, riwayat pasien mabuk perjalanan.
5)      Periksa pembalut, alat drein pada interval regular, kaji luka untuk terjadinya pembengkakan.
6)      Berikan cairan parenteral, produksi darah dan/atau plasma ekspander sesuai petunjuk. Tingkat kecepatan IV jika diperlukan.
7)      Berikan kembali pemasukan oral secara berangsur-angsur sesuai petunjuk.
8)      Berikan antiemetik sesuai kebutuhan.
d.      Nyeri berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan dan integritas otot, trauma musculoskeletal/tulang, munculnya saluran dan selang.
Tujuan: rasa nyeri/sakit telah terkontrol/dihilangkan, klien dapat beristirahat dan beraktifitas sesuai kemampuan.
Intervensi:
1)      Kaji skala nyeri, intensitas, dan frekuensinya.
2)      Evaluasi rasa sakit secara regular.
3)      Kaji tanda-tanda vital.
4)      Kaji penyebab ketidaknyamanan yang mungkin sesuai prosedur operasi.
5)      Letakkan reposisi sesuai petunjuk.
6)      Dorong penggunaan teknik relaksasi.
7)      Berikan obat sesuai petunjuk.
e.       Kerusakan integeritas kulit berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan kesehatan.
Tujuan: klien memperlihatkan tindakan untuk meningkatan metabolik.
Intervensi:
1)      Kaji kembali kemampuan dan keadaan secara fungsional
2)      Letakkan klien pada posisi tertentu.
3)      Pertahankan kesejahteraan tubuh secara fungsional.
4)      Bantu atau tindakan untuk melakukan latihan rentang gerak.
5)      Berikan perawatan kulit dengan cermat.
6)      Pantau haluaran urine.
f.        Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi dan prosedur invasif.
Tujuannya; tidak terdapat tanda-tanda dan gejala infeksi
Intervensi:
1.      Berikan perawatan aseptik dan anti septik, pertahankan cuci tangan yang baik.
2.      Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka jahitan) daerah yang terpasan alat invasif.
3.      Pantau seluruh tubuh secara teratur, catat adanya demam, menggigil dan diaforesis
4.      Awasi atau jumlah penggunjung
5.      Observasi warna dan kejarnya uring
6.      Berikan anti biotik sesuai indikasi
g.   Gangguan kebutuhan istrahat tidur berhubungan dengan perubahan lingkungan dan efek hopitalisasi
Tujuan: kebutuhan istrahat dapat terpenuhi
Intervensi:
1.      Kaji kemampuan dan kebiasaan tidur klien
2.      Berikan tempat tidur yang nyaman dengan beberapa barang milik pribadinya contoh : Sarung, guling
3.      Dorong aktifitas ringan
4.      Intruksikan tindakan relaksasi
5.      Dorong keluarga untuk selalu menemani.
6.      Awasi dan batasi jumlah penggunjung
h.   Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi/situasi, pragnosis kebutuhan pengobatan.
Tujuan: Menyatakan, pemahaman proses penyakit/pragnosis.
Intervensi:
1.      Tinjau ulang pembedahan/prosedur khusus yang dilakukan dan harapan masa dating.
2.      Diskusikan terapi obat-obatan, meliputi penggunaan resep.
3.      Indentifkasi keterbatasan aktivitas khusus.
4.      Jadwalkan priode istirahat adekuat.
5.      Tekankan pentingnya kunjungan lanjut.
6.      Libatkan orang terkenal dalam program pengajaran. Menyediakan instruksi tertulis/materi pengajaran.
7.      Ulangi pentingnya diita nutrisi dan pemasukan cairan adekuat.
  1. Pelaksanaan
     Prinsip tindakan yang mendasari penanganan diagnosa keperawatan yang dapat timbul, adalah:
a.       Mempertahankan pola nafas efektif
b.      Mempertahankan tingkat kesadaran klien
c.       Mempertahankan keseimbangan cairan
d.      Menerapkan manajemen nyeri
e.       Mencegah terjadinya infeksi
f.       Mempertahankan dan meningkatkan kebutuhan istrahat
g.      Meningkatkan pengalaman pasien tentang proses penyakit dan prognosis.
  1. Evaluasi
     Evaluasi yang diharapkan adalah :
    1. Pola napas efektif
    2. Kesadaran klien stabil
    3. Volume cairan adekuat
    4. Berkurang atau hilangnya nyeri
    5. Infeksi tidak terjadi
    6. Kebutuhan istrahat klien dapat terpenuhi
    7. Klien dapat memahami tentang proses penyakit
DAFTAR PUSTAKA


Cameeron ( 1995 ). Prinsip-prinsip Penyakit Dalam. Jakarta: Binarupa Aksara
Dengoes, et al ( 2000 ). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi III. Jakarta: Buku    kedokteran ECG.
Harrison ( 1995 ). Prinsip-prinsip Penyakit Dalam. Jakarta: Buku kedokteran ECG.
J. c. e. Underwood ( 2000 ).Patologi Umum dan Sistematika. Edisi II. Jakarta: Balai Penerbitan Buku Kedokteran ECG.
Noer Sjaifoellah ( 1996 ). Buku Ajaran Ilmu Penyakit Dalam. Edisi III. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI.
Staf Pengajar Parasitologi ( 2003 ). Protozoa. Malang : Fakultas Kedokteran Unibraw.
Bruner dan Suddarth ( 2000 ). Buku Ajaran KMB. Edisi 8. Jakarta: ECG
Microsoft Encantta Reference Library.( 2004 ). Liver, Amebiasis Abses and Calf Diphteria/ Fusa bakteriun necrosphorum.
Harjono, et al ( 1996 ).Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 26. Jakarta: Buku kedokteran ECG.


0 komentar:

Posting Komentar

By :
Free Blog Templates